Kenaikan Harga Minyak Dunia, Ada Positifnya dan Ada Negatifnya
DALAM kurun waktu tiga bulan terakhir ini harga minyak dunia melambung tinggi dan sempat menembus batas psikologis, yaitu sampai US$ 96 per barel. Banyak yang mengkhawatirkan hal ini akan mengancam perekonomian Indonesia.
Bagaimana pemerintah menyikapi kenaikan harga minyak dunia? Berikut wawancara Reporter ELSHINTA Krisanti (KS) dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam Program Wapres di Radio, Kamis (13/12) siang.
KS : Selamat sore Pak Wapres. Apa kabar ?
JK : Selamat sore. Baik Alhamdulillah...
KS : Bagaimana Bapak melihat permasalahan kenaikan harga minyak dunia ini ?
JK : Harga minyak yang mahal ini tentu masalahnya bukan hanya masalah Indonesia tapi masalah dunia. Artinya bagi negara-negara yang memproduksi minyak tentu menjadi kebahagiaan karena menghasilkan pendapatan yang banyak. Sedangkan bagi negara yang sebagian besar menjadi konsumen minyak tetapi tidak memproduksi minyak tentu menjadi kesulitan yang luar biasa. Kita mesti bersyukur bahwa kita juga memproduksi minyak, walaupun memang hasilnya kurang lebih satu juta barel per hari. Tapi kita juga konsumen minyak yang hampir sama jumlahnya atau lebih banyak sedikit. Jadi pada dasarnya kita memang mengalami efeknya tapi juga ada pendapatan lebihnya. Namun karena ekonomi dunia yang begini tentu adalah masalah-masalah perubahan-perubahan ekonomi secara keseluruhan seperti permintaan dari barang-barang impor dan sebagainya. Jadi plus minus kita ada positifnya dan ada juga negatifnya.
KS : Untuk dampak negatifnya yang memang menjadi kekhawatiran masyarakat, bagaimana Bapak melihatnya untuk Indonesia ?
JK : Kalau ingin mengatakan negatif, subsidi BBM naik sekali. Tahun anggaran 2007 ini diperkirakan kita mensubsidi BBM sekitar Rp 60 triliun dan ini bisa membengkak sampai kira-kira Rp 80 triliun. Tapi yang paling besar nanti tahun depan. Kalau harganya masih sekitar US$ 90 per barel ke atas dan hampir US$ 100 per barel maka subsidinya saja kita bisa sampai RP 130 triliun-Rp 150 triliun. Jadi itu kira-kira tiga kali dari seluruh anggaran pendidikan kita harus membayar subsidi BBM jika terjadi harga sekitar US$ 100 per barel tahun depan. Namun akhir-akhir ini pada minggu-minggu ini sudah turun di bawah US$ 90 per barel lagi.
KS : Bagaimana sebenarnya langkah pemerintah dalam menyikapi harga minyak dunia ini ?
JK : Apa yang dikhawatirkan oleh masyarakat kita tentu sangat wajar sekali. Konsumsi masyarakat yang dikhawatirkan yang pertama ialah minyak tanah untuk kebutuhan rumah tangga dan solar serta bensin untuk kendaraan yang memang pasti mempunyai akibatnya. Tapi kita ingin pastikan bahwa hal-hal ini tidak dinaikkan. Jadi minyak tanah tidak, solar tidak, premiun untuk angkot, taksi dan sepeda motor tidak. Yang sedang dihitung-hitung ialah jika harga minyak dunia naik terus maka konsumsi minyak yang beroktan tinggi seperti pertamax dan sebagainya itu konsumsinya bisa tinggi sekali. Yang membeli itu kan golongan yang pada dasarnya mampu, yang punya mobil, mobil baru, tinggal di daerah-daerah yang baik. Itu targetnya dan yang lain tidak. Pengguna minyak tanah tidak, sepeda motor tidak, truk tidak dan bus tidak. Jadi tenang saja tidak akan terjadi. Jadi kalaupun dinaikkan, yang lagi dihitung hanya efeknya untuk pemakai mobil-mobil yang kita pastikan dia mampu untuk membayar.
KS : Tapi langkah-langkah kongkritnya sendiri sampai hari ini belum ada kepastian apakah memang akan dilakukan pengalihan dari oktan 88 ke 90 atau mungkin memang akan menaikkan harga BBM ?
JK: Perhitungannya pemerintah kita itu kemarin mengansumsikan atau menghitung pada harga minyak dunia sampai US$ 99 per barel. Jadi kalau ini bertahan di US$ 99 per barel atau US$ 100 per barel maka harus segera ada perubahan. Tapi karena sekarang turun menjadi US$ 88 per barel maka bebannya turun jadi kita menghitung ulang dengan daftar harga yang sekarang ini
KS : Jadi kenaikan ini hanya diberlakukan kepada pihak-pihak tertentu dan pemerintah tetap berusaha agar imbasnya tidak pada kenaikan harga kebutuhan pokok ?
JK : Yakin tidak. Karena ini juga penting agar orang jangan terlalu boros memakai kendaraannya sebab macet. Itu salah satunya untuk mengurangi kemacetan juga supaya kalau di Jakarta bisa naik busway atau naik kendaraan umum kalau di daerah-daerah. Jadi ini membuat efek yang lain.
KS : Bagaimana mengontrolnya ?
JK : Pertama ini baru tahap perencanaan dan skenario tertentu berubah karena harga minyak dunia turun. Jadi Tentu dibutuhkan suatu pengawasan, baik oleh Pertamina yang melaksanakannya dan juga masyarakat sendiri.
KS : Baik Pak Wapres. Kita harapkan semoga pemerintah dapat mengatasi kenaikan harga minyak dunia dan semoga kebijakan apapun nanti memang tidak memberatkan anggaran negara serta dapat mengakomodir aspirasi masyarakat. Terakhir apa pesan bapak untuk masyarakat ?
JK : Kalau hubungannya dengan energi kita harus menghemat energi. Energi itu apakah bahan bakar yang kita pakai setiap hari jangan terlalu boros, jangan keliling-keliling kota terus-terusan atau kemana-mana yang tidak penting. Kedua listrik agar dipakai hemat. Kalau keluar kamar matikan, jangan terlalu banyak listrik dipakai karena setiap listrik yang dipakai itu pemerintah mensubsidi begitu besar bisa mencapai Rp 40 triliun setahun jadi kita harus menghemat pemakaian listrik setiap saat. Jadi menghemat energi, apakah itu bahan bakar atau listrik dan sebagainya serta kemudian kita berusaha untuk meningkatkan produksi minyak juga.
KS : Pak Wapres terima kasih atas waktu yang sudah diberikan untuk kami. Kami nantikan kembali waktu bapak dalam acara Wapres di Radio episode berikutnya. Selamat sore dan terima kasih.
JK : Selamat sore. Terima kasih.
1 komentar:
Krisis ekonomi kali ini memang semacam “blessing in disguise.” Kalau ekonomi sedang stabil dan kemakmuran meningkat, pemerintah biasanya tidak begitu peduli dengan masalah efisiensi dan kaidah-kaidah ekonomi. Tetapi jika dunia ekonomi mengalami krisis, pemerintah menjadi lebih sadar, berubah, dan kaum teknokrat mulai mendapat angin untuk melakukan reformasi.
Posting Komentar