Jumat, 27 Juni 2008

62 Orang Masuk Daftar Hukuman Mati

Jumat, 27 Juni 2008 8:29:00

62 Orang Masuk Daftar Hukuman Mati

JAKARTA -- Pemusnahan barang bukti narkoba dan minuman keras (miras) di berbagai daerah mewarnai peringatan Hari Anti-Narkoba Internasional (HANI) di Indonesia, Kamis (26/6). Sementara itu, regu tembak dari Polri bergerak ke penjara kriminal kelas kakap Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, untuk melakukan eksekusi mati terhadap dua terpidana mati kasus narkoba, Samuel Iwuchukwu Okoye dan Hansen Anthony Nwaolisa asal Nigeria, yang dijadwalkan tadi malam.

Total terpidana mati kasus narkoba saat ini 62 orang. Eksekusi seluruh terpidana mati itu, menurut Jaksa Agung Hendarman Supandji, bisa saja dipercepat. ''Mereka adalah para pelaku pengedar narkoba. Sudah ada 57 orang yang akan dieksekusi, dua orang nanti (Kamis) malam. Yang lain (lima orang lagi sehingga total 62 orang--Red), masih dalam proses,'' ungkap Hendarman usai menghadiri peringatan HANI di Istana Negara, Jakarta, Kamis (26/6) siang.

Kepala Polri yang juga menjabat Ketua Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Narkotika Nasional (BNN), Jend Polisi Sutanto, mengemukakan, sebenarnya jumlah terdakwa pidana mati kasus narkoba pada 2008 tercatat 72 orang. Tiga orang telah dieksekusi, satu orang meninggal di dalam penjara, lima orang diturunkan hukumannya oleh Mahkamah Agung (MA) dengan dipenjara seumur hidup dan satu orang dipenjara 15 tahun. ''Dengan demikian, (terpidana mati kaus narkoba) tersisa sebanyak 62 orang,'' jelas Sutanto dalam laporannya pada peringatan HANI di Istana Negara, kemarin.

Menyegerakan eksekusi
Sutanto juga memaparkan, dalam penyidikan kasus narkoba, diketahui masih ditemukan sindikat lintas negara yang dioperasikan dari dalam penjara. Keterlibatan mereka menunjukkan bahwa penjara menjadi pusat pengendalian distribusi narkoba yang relatif lebih aman.

''Karena itu, perlu langkah tepat dan terukur untuk efek jera yang salah satunya adalah dengan segera mengeksekusi terhadap para terpidana mati kasus narkoba,'' kata Sutanto. Dari penanganan kasus dan penyidikan serta proses hukum, lanjut Sutanto, tindak pidana narkoba yang terungkap mengalami peningkatan. Pada 2006, tercatat 17.355 kasus, sedangkan pada 2007 meningkat 30 persen menjadi 22.630 kasus.

Jumlah pelaku tindak narkoba ikut meningkat. Jika data pada 2006 mencatat 31.635 orang, pada 2007 terjadi peningkatan menjadi 36.169 orang (14 persen). Sutanto juga melaporkan terjadi peningkatan barang bukti yang disita. Ganja meningkat 79 persen pada 2007, heroin sebesar 23 persen, serta psikotropika, berupa pil dan tablet, sebesar 166 persen.

Diingatkan Sutanto bahwa saat ini terdapat senyawa kimia baru narkoba jenis precursor yang dapat digunakan sebagai bahan dasar ataupun bahan campuran pembuat narkoba. ''Ini pun harus diwaspadai oleh semua pihak,'' katanya. Seiring dengan maraknya kasus narkoba, menurut Sutanto, jenis kejahatan lain yang terkait dengan peredaran narkoba dunia semakin canggih dan menggunakan teknologi maju. Kejahatan itu antara lain tindak pidana pencucian uang (money laundering), uang palsu, dan pembobolan kartu kredit berskala internasional.

Tingkatkan perang
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidatonya mengajak semua pihak meningkatkan perang terhadap narkoba. ''Perang melawan narkoba mari ditingkatkan intensitasnya agar hasilnya lebih nyata dan lebih baik. Semua memiliki tanggung jawab untuk menyukseskan program nasional kita dan menyelamatkan bangsa,'' katanya.

Sementara itu, kalangan lembaga swadaya masyarakat (LSM), seperti Visi Anak Bangsa yang menggelar aksi simpatik di jalanan pusat Kota Jakarta, meminta pemerintah merestrukturisasi BNN. Pasalnya, lembaga ini belum efektif menekan ancaman bahaya narkoba, malah kasusnya terus meningkat di Indonesia. n zam/wed/dri

Agama Bukan Akar Kekerasan

Dunia Sepakati Agama Bukan Akar Kekerasan

Jakarta-RoL -- Para peserta dan pembicara dalam Forum Perdamaian Dunia ("World Peace Forum"/WPF) yang digelar oleh PP Muhammadiyah pada 24-26 Juni di Jakarta, bersepakat bahwa ajaran agama bukanlah akar dari berbagai kekerasan.

"Tercipta konsensus bersama bahwa agama bukanlah akar tindak kekerasan, tetapi memang kerap kali ajaran agama disalahgunakan dan digunakan sebagai alasan untuk aksi kekerasan," kata Dr William F Vendley, Sekjen "Religions for Peace", sebuah LSM yang bermarkas di New York, Amerika.

Menurut Vendley, forum perdamaian yang dihadiri oleh ratusan peserta dari seluruh dunia, segala agama dan kepercayaan itu juga bersepakat untuk mendesak semua pihak melindungi kaum minoritas.

"Saya tidak menunjuk salah satu 'hidung' penganut agama tertentu, karena sejatinya penindasan terhadap minoritas terjadi hampir di semua agama dan kepercayaan," ujarnya.

Namun, perlindungan terhadap minoritas ini disepakati sebagai hal yang tidak bisa lagi diabaikan bila dunia hendak menciptakan sebuah perdamaian yang hakiki.

"Kesepakatan penting lainnya yang tercapai adalah terkait dengan ketidakadilan berbagai bentuk yang harus segera diakhiri," kata Vendley.

Ia merinci berbagai ketidakadilan di sektor ekonomi, sosial, dan politik terbukti potensial menimbulkan konflik kekerasan, itu sebabnya semua pihak harus didesak agar menyudahi kondisi ini.

Sementara itu Rustem Ibragim Khairov, Direktur Eksekutif Yayasan Internasional untuk Kelangsungan dan Pembangunan Kemanusiaan, menyatakan media massa harus secara aktif mengambil peran dalam upaya perdamaian dunia.

Lewat pemberitaan yang berimbang, kata Rustem Ibragim Khairov, media akan mengurangi eskalasi konflik sekaligus mendorong langkah para pihak berkonflik ke upaya damai.

Pria yang tinggal di Moskow Rusia ini mencermati pemberitaan yang tidak imbang di media massa tentang Islam tidak konstruktif terhadap upaya penciptaan perdamaian dunia.

"Bila media bisa bersepakat untuk mengambil posisi yang imbang dalam memberitakan isu konflik atau perbedaan pandangan, maka provokasi bisa dicegah lebih dini," kata dia.

Rustem mencontohkan media massa di Rusia sudah "terbeli" oleh uang, sehingga kerap kali berita-berita yang ditampilkan tidak berdiri di posisi yang imbang.

WFP tahun ini digelar oleh PP Muhammadiyah dan dihadiri oleh sekitar 200 peserta dan pembicara dari berbagai negara.
"Sebagai salah satu organisasi berbasis Islam terbesar di Indonesia, PP Muhammadiyah lewat forum ini mendapat semacam stempel kredibilitas peran Muhammadiyah dan Muslim Indonesia dalam upaya penciptaan perdamaian dunia," kata Vendley. antara/is

Maniak Seks, Kenali Gejalanya

Maniak Seks, Kenali Gejalanya
/
Artikel Terkait:
Maniak Seks, Normalkah?
Cenderung Homoseksual, Gimana Dong?
Berfantasi Agar Seks Makin Pede
Perlukah Bercinta Setiap Hari?
Mitos Makanan dan Seks
Jumat, 27 Juni 2008 10:57 WIB
EKSPRESI seksual merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan dan telah menjadi fitrah bagi manusia sebagai mahluk biologis. Tetapi, jika ekspresi atau dorongan itu begitu kuat dan sering kali seks menjadi lebih dominan ketimbang kesehatan, pekerjaan atau hubungan sehingga kehidupan Anda menjadi terganggu, mungkin saja Anda mengalami perilaku seks kompulsif (compulsive sexual behaviour/CSB).Dalam istilah medis, perilaku seks kompulsif juga sering disebut hiperseks, nymphomania atau erotomania. Ada juga yang menyebut kecanduan seks atau maniak seks. Tetapi dua istlah ini biasanya berkaitan atau merujuk pada tingginya aktivitas seksual bersama penggunaan alkohol, narkoba atau pun perjudian. Menurut penjelasan dalam situs Mayo Clinic, perilaku seks kompulsif secara umum dipertimbangkan sebagai suatu kelainan yang dialami seseorang dalam mengendalikan impuls atau dorongan seks. Akibat kelainan ini, seseorang tak mampu menolak godaan atau dorongan melakukan suatu tindakan yang merugikan diri sendiri atau pun orang lain. Pada kelainan seks ini, perilaku normal yang seharusnya menyenangkan dapat berubah menjadi kebiasaan yang ekstrim.Apa pun itu istilahnya, perilaku seks kompulsif adalah masalah serius yang dapat mengganggu kehidupan seseorang dan bahkan mengancam kesehatan. Tetapi dengan pengobatan dan program-program bantuan, CSB sebenarnya dapat dikendalikan sehingga seseorang dapat membangun kehidupan seks yang lebih sehat. Kenali gejalanyaGejala CSB sangat bervarasi, baik dari jenis maupun tingkat keparahannya. Dorongan untuk tenggelam dalam perilaku kompulsif ini bisa bersifat kronis dan kuat, dan mungkin akan terasa dorongan ini di luar kendali. Secara umum, gejala perilaku seks kompulsif dapat dikenali dari pola-pola perilaku berikut ini:* Memiliki banyak pasangan seks atau affair di luar perkawinan yang sah.* Berhubungan seks dengan pasangan baru yang belum dikenal atau jasa prostitusi* Menghindari keterlibatan emosional dalam hubungan seksual* Menggunakan layanan komersial yang mengumbar seksualitas lewat telepon atau internet * Masturbasi dengan frekuensi sangat sering.* Seringkali melihat atau menggunakan materi-materi pornografi.* Melakukan hubungan seks bersifat masokisme dan sadisme.* Mengekspos atau memamerkan seksualitas kepada umum (eksibisionisme)Orang yang mengalami CSB seringkali menggunakan seks sebagai pelarian dari masalah lain, seperti kesepian, depresi, kecemasan atau pun stres. Ia juga akan membiarkan dirinya terlibat perilaku seks berisiko meski sadar akan konsekuensinya seperti gangguan jantung, penyakit menular seksual atau hilangnya hubungan dengan orang yang dicintai.Pria dan wanita yang mengalami CSB mungkin saja telah menikah atau sedang dalam hubungan serius. Mereka tampaknya hidup normal, namun sebenarnya tidak. Kenyataannya, mereka seringkali kesulitan menciptakan dan mempertahankan keintiman secara emosional. Mereka lalu mencari kepuasan melalui perilaku seks, tetapi pemenuhan kebutuhan itu cenderung tidak tercapai sehingga kehidupan mereka menjadi terasa hampa. CSB juga dapat dialami siapa saja tampa mempedulikan preferensi seksual , baik heteroseks, homoseks atau pun biseks.Penyebab Sejauh ini, para ahli belum dapat memastikan apa penyebab timbulnya CSB. Penelitian ilmiah mengenai kecanduan seks ini masih terbilang baru, dan para ahli masih menyelidiki kemungkinan beberapa penyebabnya antara lain :* Abnormalitas otak. Penyakit atau kondisi medis tertentu kemungkinan dapat menimbulkan kerusakan pada bagian otak yang mempengaruhi perilaku seksual. Penyakit seperti multiple sclerosis, epilepsi dan demensia juga berkaitan dengan CSB . Selain itu, pengobatan penyakit Parkinson dengan dopamine diduga dapat memicu perilaku CSB.* Senyawa kimia otak. Senyawa kimia pembawa pesan antarsel otak (neurotransmiter) seperti serotonin, dopamin, norepinephrine dan zat kimia alami lain dalam otak berperan penting dalam fungsi seksual dan mungkin juga berkaitan dengan CSB meski belum jelas mekanismenya.* Androgen. Hormon seks ini secara alami terdapat pada pria dan wanita. Walaupun androgen juga memiliki peran yang sangat penting dalam memicu hasrat atau dorongan seks, belum jelas apakah hormon ini berkaitan langsung dengan CSB.* Perubahan sirkuit otak. Beberapa ahli membuat teori bahwa CSB adalah sebuah jenis kecanduan yang seiring waktu menimbulkan perubahan para sirkuit syaraf otak. Sirkuit ini merupakan jaringan syaraf yang menjadi sarana komunikasi antara satu sel dengan sel lain dalam otak. Perubahan ini dapat menimbulkan reaksi psikologis menyenangkan saat terlibat dalam perilaku seks dan reaksi tidak menyenangkan ketika perilaku itu berhenti.

Trima Kasih Atas Kunjungan Anda Trima Kasih Atas Kunjungan Anda