Selasa, 01 Juli 2008


Berapa besar uang yang harus Anda keluarkan untuk penggunaan telepon selular selama satu bulan ? Mana lebih menguntungkan, memanfaatkan fasilitas telepon seluler atau telepon rumah ? Tahukah Anda, perbandingan biaya yang kita keluarkan untuk satu percakapan atau SMS yang diberlakukan operator selular di negara kita, masih jauh lebih mahal dibandingkan negara lain.

Di Malaysia, tarif yang dikenakan untuk 1 menit panggilan hanya berkisar Rp 1493, Brunei Rp 577 per menit, Thailand Rp 424 permenit, India Rp 518 menit, Singapura Rp 924, Vietnam 819 permenit. Sementara di Indonesia, berdasarkan data yang dimiliki Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), disebutkan biaya setiap pengiriman SMS kepada sesama operator ataupun ke operator lain, konsumen dipotong pulsa sebesar Rp 250 - Rp 300.

Perlu diketahui bahwa jumlah operator selular yang beroperasi di Indonesia jumlahnya mencapai delapan operator. Yakni PT Excelcomindo Pratama (XL), PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom), PT Telekomunikasi Indonesia (Telkomsel), PT Indosat, PT Hutchinson, PT Smart Telecom, PT Mobile-8, dan PT Bakrie Telecom.

BRTI pun melakukan pengkajian lebih lanjut dan menghasilkan data bahwa harga produksi untuk tarif bicara yang dikenakan operator telepon seluler rata-rata Rp 75 per 30 detik. Sementara untuk layanan pesan singkat (SMS) bisa di bawah 50 persen dari tarif bicara tersebut. ?Bahkan, untuk tarif sesama operator (on net) seharusnya gratis,? kata Committee Member BRTI, Kamilov Sagala.

Dari hasil kajian BRTI ditemukan juga, Telkomsel mematok tarif Rp 300-Rp 1.500 per 30 detik ke sesama pengguna layanan Telkomsel. Sedangkan untuk panggilan ke operator lain tarifnya Rp 1.300-Rp 1.600. Lalu untuk SMS tarifnya berkisar Rp 299-Rp 350 per SMS.

Sedangkan tarif Indosat untuk produk IM3 lebih murah dari harga yang dipatok Telkomsel. Untuk tarif bicara sesama operator per 30 detik dikenai tarif Rp 250-Rp 500. Sedangkan untuk panggilan antaroperator dikenakan tarif Rp 650 - Rp 775 per 30 detik. Sementara untuk tarif SMS antara Rp 150-Rp 500 per SMS. ?Dari pemahaman ini, sebenarnya harga-harga yang lain itu bisa jauh lebih murah,? papar Kamilov lebih lanjut.

Biaya produksi SMS pun, seharusnya tidak sebesar itu. Sebab, biaya produksi SMS semakin lama semakin turun. Menurut Kamilov, harga produksi SMS saat kajian itu dilakukan mencapai Rp 74. ?Seharusnya saat ini sudah turun 50%,? ujarnya. Kendati begitu, BRTI tak kuasa menekan operator seluler untuk menurunkan tarif.

Tingginya tarif yang ditatapkan para operator diakui oleh anggota majelis pemeriksa kasus kartel, Erwin Syahrial. Bahkan Menurut anggota BRTI Heru Sutadi, lembaganya memiliki data lengkap soal perhitungan ongkos produksi. Ongkos produksi per SMS hanya Rp 75 , "Sudah disetujui semua operator tahun lalu. Tahun ini bisa lebih murah lagi," ucap Heru.

Namun apa yang menjadi penyebab tingginya tarif, sejumlah operator seluler memiliki pandangan masing-masing. Vice President VAS and New Services PT Excelcomindo Pratama Tbk., operator XL, I Made Harta Wijaya mengatakan operator masih menggunakan pola sender keep all yang disepakati sejak bulan Februari 2000. Pola tersebut artinya yang dapat duit adalah salah satu operator pengirim saja. Umpamanya, SMS dari XL ke operator lain, maka yang dapat duit ya XL saja.

Made mengingatkan, dulu ketika telepon seluler mulai populer, tarif SMS sekitar Rp 250-Rp 350. Namun, kini seiring dengan kian banyaknya pengguna SMS, tarifnya pun makin murah. Penentuan tarif itu berkisar Rp 45 - Rp 350, tergantung layanan masing-masing operator. ?Tarif yang beragam itu, adalah tarif kompetisi dan juga strategi untuk membidik pasar berdasarkan kebutuhan operator,? ujarnya.

Juru bicara Telkom, Eddy Kurnia, menyatakan layanan SMS di Indonesia masih berbasis 'sender keep all' (SKA) sehingga operator penerima SMS tak memperoleh benefit apapun. Padahal, banjir pesan pendek membebani operator yang dituju. Untuk menghindari persaingan antaroperator, banyak promosi SMS on net dengan harga murah atau mengubah SKA menjadi pola interkoneksi.

Soal tarif versi BRTI, Eddy menilai BRTI menghitung berdasarkan perhitungan cost based, yakni SMS masih dianggap sebagai 'value added service', sehingga cost rendah. Sebab tak semua elemen jaringan yang digunakan diperhitungkan.

Juru bicara PT Indosat Adita Irawati menampik anggapan perusahaannya memanfaatkan keleluasaan dari pemerintah dengan mengenakan tarif tinggi. Menurut dia, sangat sulit menurunkan harga karena revenue hanya didapat dari pengiriman SMS. Sedangkan operator penerima tak memperoleh apa-apa. Berbeda dengan tarif interkoneksi suara, yang operator pengirim dan penerima memperoleh revenue.

Adalah hak operator untuk membela diri dengan metode dan keyakinannya. Tapi kewenangan untuk menyatakan benar atau salah, mutlak berada di tangan pemerintah sebagai penyelenggara negara

Wapres Jusuf Kalla

Wapres Jusuf Kalla:
Kenaikan Harga Minyak Dunia, Ada Positifnya dan Ada Negatifnya


DALAM kurun waktu tiga bulan terakhir ini harga minyak dunia melambung tinggi dan sempat menembus batas psikologis, yaitu sampai US$ 96 per barel. Banyak yang mengkhawatirkan hal ini akan mengancam perekonomian Indonesia.

Bagaimana pemerintah menyikapi kenaikan harga minyak dunia? Berikut wawancara Reporter ELSHINTA Krisanti (KS) dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam Program Wapres di Radio, Kamis (13/12) siang.

KS : Selamat sore Pak Wapres. Apa kabar ?

JK : Selamat sore. Baik Alhamdulillah...

KS : Bagaimana Bapak melihat permasalahan kenaikan harga minyak dunia ini ?

JK : Harga minyak yang mahal ini tentu masalahnya bukan hanya masalah Indonesia tapi masalah dunia. Artinya bagi negara-negara yang memproduksi minyak tentu menjadi kebahagiaan karena menghasilkan pendapatan yang banyak. Sedangkan bagi negara yang sebagian besar menjadi konsumen minyak tetapi tidak memproduksi minyak tentu menjadi kesulitan yang luar biasa. Kita mesti bersyukur bahwa kita juga memproduksi minyak, walaupun memang hasilnya kurang lebih satu juta barel per hari. Tapi kita juga konsumen minyak yang hampir sama jumlahnya atau lebih banyak sedikit. Jadi pada dasarnya kita memang mengalami efeknya tapi juga ada pendapatan lebihnya. Namun karena ekonomi dunia yang begini tentu adalah masalah-masalah perubahan-perubahan ekonomi secara keseluruhan seperti permintaan dari barang-barang impor dan sebagainya. Jadi plus minus kita ada positifnya dan ada juga negatifnya.

KS : Untuk dampak negatifnya yang memang menjadi kekhawatiran masyarakat, bagaimana Bapak melihatnya untuk Indonesia ?

JK : Kalau ingin mengatakan negatif, subsidi BBM naik sekali. Tahun anggaran 2007 ini diperkirakan kita mensubsidi BBM sekitar Rp 60 triliun dan ini bisa membengkak sampai kira-kira Rp 80 triliun. Tapi yang paling besar nanti tahun depan. Kalau harganya masih sekitar US$ 90 per barel ke atas dan hampir US$ 100 per barel maka subsidinya saja kita bisa sampai RP 130 triliun-Rp 150 triliun. Jadi itu kira-kira tiga kali dari seluruh anggaran pendidikan kita harus membayar subsidi BBM jika terjadi harga sekitar US$ 100 per barel tahun depan. Namun akhir-akhir ini pada minggu-minggu ini sudah turun di bawah US$ 90 per barel lagi.

KS : Bagaimana sebenarnya langkah pemerintah dalam menyikapi harga minyak dunia ini ?

JK : Apa yang dikhawatirkan oleh masyarakat kita tentu sangat wajar sekali. Konsumsi masyarakat yang dikhawatirkan yang pertama ialah minyak tanah untuk kebutuhan rumah tangga dan solar serta bensin untuk kendaraan yang memang pasti mempunyai akibatnya. Tapi kita ingin pastikan bahwa hal-hal ini tidak dinaikkan. Jadi minyak tanah tidak, solar tidak, premiun untuk angkot, taksi dan sepeda motor tidak. Yang sedang dihitung-hitung ialah jika harga minyak dunia naik terus maka konsumsi minyak yang beroktan tinggi seperti pertamax dan sebagainya itu konsumsinya bisa tinggi sekali. Yang membeli itu kan golongan yang pada dasarnya mampu, yang punya mobil, mobil baru, tinggal di daerah-daerah yang baik. Itu targetnya dan yang lain tidak. Pengguna minyak tanah tidak, sepeda motor tidak, truk tidak dan bus tidak. Jadi tenang saja tidak akan terjadi. Jadi kalaupun dinaikkan, yang lagi dihitung hanya efeknya untuk pemakai mobil-mobil yang kita pastikan dia mampu untuk membayar.

KS : Tapi langkah-langkah kongkritnya sendiri sampai hari ini belum ada kepastian apakah memang akan dilakukan pengalihan dari oktan 88 ke 90 atau mungkin memang akan menaikkan harga BBM ?

JK: Perhitungannya pemerintah kita itu kemarin mengansumsikan atau menghitung pada harga minyak dunia sampai US$ 99 per barel. Jadi kalau ini bertahan di US$ 99 per barel atau US$ 100 per barel maka harus segera ada perubahan. Tapi karena sekarang turun menjadi US$ 88 per barel maka bebannya turun jadi kita menghitung ulang dengan daftar harga yang sekarang ini

KS : Jadi kenaikan ini hanya diberlakukan kepada pihak-pihak tertentu dan pemerintah tetap berusaha agar imbasnya tidak pada kenaikan harga kebutuhan pokok ?

JK : Yakin tidak. Karena ini juga penting agar orang jangan terlalu boros memakai kendaraannya sebab macet. Itu salah satunya untuk mengurangi kemacetan juga supaya kalau di Jakarta bisa naik busway atau naik kendaraan umum kalau di daerah-daerah. Jadi ini membuat efek yang lain.

KS : Bagaimana mengontrolnya ?

JK : Pertama ini baru tahap perencanaan dan skenario tertentu berubah karena harga minyak dunia turun. Jadi Tentu dibutuhkan suatu pengawasan, baik oleh Pertamina yang melaksanakannya dan juga masyarakat sendiri.

KS : Baik Pak Wapres. Kita harapkan semoga pemerintah dapat mengatasi kenaikan harga minyak dunia dan semoga kebijakan apapun nanti memang tidak memberatkan anggaran negara serta dapat mengakomodir aspirasi masyarakat. Terakhir apa pesan bapak untuk masyarakat ?

JK : Kalau hubungannya dengan energi kita harus menghemat energi. Energi itu apakah bahan bakar yang kita pakai setiap hari jangan terlalu boros, jangan keliling-keliling kota terus-terusan atau kemana-mana yang tidak penting. Kedua listrik agar dipakai hemat. Kalau keluar kamar matikan, jangan terlalu banyak listrik dipakai karena setiap listrik yang dipakai itu pemerintah mensubsidi begitu besar bisa mencapai Rp 40 triliun setahun jadi kita harus menghemat pemakaian listrik setiap saat. Jadi menghemat energi, apakah itu bahan bakar atau listrik dan sebagainya serta kemudian kita berusaha untuk meningkatkan produksi minyak juga.

KS : Pak Wapres terima kasih atas waktu yang sudah diberikan untuk kami. Kami nantikan kembali waktu bapak dalam acara Wapres di Radio episode berikutnya. Selamat sore dan terima kasih.

JK : Selamat sore. Terima kasih.

Trima Kasih Atas Kunjungan Anda Trima Kasih Atas Kunjungan Anda